Saya bekerja di
sebuah perusahaan yang mempunyai kantor perwakilan di tiga kota, Jakarta,
Jogjakarta dan Surabaya, di kantor kami ada program yang apalah itu namanya
“Pertukaran Sensei”, sensei itu guru. Yang dari Jakarta ke Surabaya ataulah
sebaliknya, sebaliknya itu yang dari Surabaya ke Jakarta.
Hari itu hari yang
namanya senin, 26 Maret 2012 Masehi, pada saat itu saya sedih sekali, karena
ditinggal seorang teman ke Surabaya, tapi tidak jadi sedih karena teman dari
Surabaya datang untuk menggantikan. Kami sambut teman baru kami dari Surabaya
dengan sukacita, tidak dengan dukacita. Tapi kami lupa mengadakan upacara yang
apalah itu disebut dengan upacara penyambutan, karena kami bekerja, bekerja itu
sibuk bukan? Jadi tidak sempat. Karena itu, saya akan memberikan upacara
penyambutan sendiri nanti secara pribadi.
Teman yang dari
Surabaya tak usah pusing untuk mencari tempat tinggal, karena dia kami
persilahkan untuk tinggal di asrama perusahaan, yang namanya Kamar 1, tempat
saya tinggal sementara juga. Setelah selesai jam bekerja, yang selesai bekerja
bukan jam tapi para karyawan, termasuk teman kami dari Surabaya, segeralah
pulang ke asrama untuk memasuki kamar 1, kamar yang penuh kebahagiaan, senang
dan sukacita, tempat kami duduk-duduk di lantai dan tidur-tidur ya di kasur,
makan-makan di Mas Bejo si Pecel Lele, dan sedekah ke toilet, oh terimakasih
Mas Bejo, karena kau sudah memberi kami bahan untuk sedekah.
Saat itu tibalah
malam, saatnya untuk tidur, saya persilahkan teman saya dari Surabaya untuk
tidur satu kamar dengan saya, dipersilahkan juga untuk tidur duluan karena
pasti capek setelah perjalanan SBY-JKT meskipun tidak harus jalan kaki. Diapun
tidur duluan, saya belakangan, jam 1 malam setelah nyanyian tidur
dikumandangkan teman saya, oh berarti dia sudah tidur pulas, saya ambillah air
1 gelas, 1/2 untuk diminum 1/2 lagi untuk teman saya, saya kan suka berbagi.
Saya siramkan 1/2 gelas itu di sela-sela selangkangan teman saya supaya dia
menjadi basah, setelah itu sayapun tidur dengan harapan besok pagi teman saya
merasa menjadi balita ataulah justru jadi manula, karena yang mengmpol adalah
balita dan manula.
Ternyata benar, di
pagi hari teman saya dari Surabaya curhat sama teman saya yang orang sumedang,
tapi dia bukan penjual tahu, dia penghuni lama asrama. Dan ceritalah tentang
entah mengapa celana dan kasurnya basah, apakah mengompol, apakah bocor karena
hujan, ataulah juga gara2 mahluk gaib penunggu kamar 1, dia tak tahu siapa atau
apalah yang membuat celana dan kasurnya menjadi basah. Ah biarkan saja, saya
tidak kasih tahu, karena yang suka kasih tahu adalah teman saya dari Sumedang.
Oh, saya tak tega membuat teman saya dari Surabaya
bertanya-tanya, apalagi kalau menuduh mahluk gaib yang melakukan itu, itu
namanya fitnah, fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Akhirnya saya mengakui
perbuatan saya semalam. Oh, itulah pesta penyambutan versi saya, biarpun begitu
tapi itu wujud penerimaan saya terhadap kamu wahai teman dari Surabaya. Nanti
ada yang bisa kamu ceritakan setelah pulang ke Surabaya, dan setidaknya nama
saya akan terus kamu ingat sampai tua nanti, dan nama kamu akan saya ingat
sampai tua nanti. Siapa tahu saya jadi pengusaha, ketika kamu melamar pekerjaan
pasti saya terima.




0 comments:
Posting Komentar