Saat itu, matahari tepat berada di ubun-ubun kepala, oh hari
itu sangat panas, saking panasnya serasa ingin masuk ke dalam kulkas, sayang
di kantor saya ada larangan masuk kulkas, dikantor anda? Yang terbayang dalam
pikiran saya adalah sebotol minuman dingin yang ada di kulkas warung seberang
tempat saya bekerja mencari nafkah lahir, karena nafkah batin saya lakukan di
rumah, bukan di kantor.
Saya tiba di depan warung dengan lebar 4 meter kalau belum
yakin silakan ikut saya mengukur lebarnya sekali lagi. Disitu saya cari sendiri
minuman yang ingin saya beli dengan mata uang rupiah karena si penjaga warung
asyik dengan kalkulatornya. Saya bawa satu minuman berperisa teh dalam botol
yang dinamai teh gelas, aneh sekali memang, dasar orang kita terkadang suka
begitu. Ada juga susu sapi bergambar beruang dengan iklan naga, yah begitulah
memang tidak usah diperdebatkan karena memang begitu.
Saya keluarkan dompet kumal berwarna abu-abu terbuat dari
kain yang dulunya bagus sekarang sudah sobek-sobek. Dari dompet itu saya
keluarkan uang receh satu lembar seratus ribu untuk membayar satu botol teh
yang harusnya dalam gelas. Si penjaga warung melihat uang saya sedikit mengerenyitkan
dahi, dahi itu bagian dari kepala.
“besar banget uangnya kang (abang- bahasa sunda), emang ga
ada uang kecil?” dia tanya ke saya.
Ada yang aneh dengan pertanyaan di atas? Kalau berpikiran
ada yang aneh berarti anda sepikiran dengan saya.
Saya jawab “aduh, tidak ada kang, gimana atuh? (atuh itu –dong).
“waduh, uangnya kegedean atuh kang” kata si penjaga warung
lagi.
Nah, mulai ada yang aneh lagi kan dengan pernyataan si
penjaga warung. Tapi biarlah, dia memang begitu.
Mau ngutang malu, mau beli uangnya kegedean, akhirnya saya
ga jadi beli minuman itu dan harus merelakan siang itu tenggorokan kering. Tak
apalah, saya rela.
Saya kembali ke kantor, saya tadi lupa kalau di kantor ada
kulkas, ada es batu, ada dispenser, ada istri saya yang selalu siap sedia kopi
instan dan akan kubuat sendiri es kopi. Siang bolong macam begitu sangatlah
mantap dia, saya akan nikmati dengan semangat.
Sampailah di kantor, kopi ada, dispenser ada, esnya? Oh ternyata
esnya habis, ya sudahlah saya harus menjadi orang yang lapang dada, menerima
segala kenyataan yang tidak sesuai harapan. Itu memang sulit, tapi dengan
keikhlasan hal tersebut bisa kita lakukan. Akan tetapi ikhtiar itu penting
bukan? Hasil ada yang mengatur, tugas kita sebagai manusia adalah berusaha,
berikhtiar dan tawakal. Orang Jepang bilang “doryoku sureba kanarazu dekiru”
artinya jika berusaha pasti kita bisa!
Besok, saya akan berusaha lagi, bawa uang kecil ke warung. Oh,
sayang kalau harus saya gunting.
Rizal
Ditulis 05 Mei 2015










