Setelah selesai aktifitas saya di kantor sebagai guru dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore, seringnya sih lebih dari jam 5, pulanglah saya ke tempat tinggal saya sementara di asrama perusahaan, tempat yang memberi saya ruang untuk ngopi, merokok, tidur, mandi dan tempat untuk beramal yaitu sedekah pada toilet. Tentunya sambil jongkok, supaya tak tahulah orang bahwa saya sedang beramal, karena kalau beramal ingin dilihat orang bukankah itu sombong? Atau istilah lainnya riya.
Iya, asrama memang tempat saya untuk melakukan berbagai aktifitas diatas kecuali makan. Karena setiap malam saya makan di warung pecel lele yang berada dipinggir jalan, karena tak maulah mereka tertabrak, posisi tepatnya di pinggir jalan depan asrama. Kadang makan pecel lele, kadang makan soto ayam, kadang makan ayam goreng, tapi sumpah!! saya tak makan daging babi karena takutlah saya disangka kanibal. Kanibal itu adalah memakan sesama.
Saya masih ingat pertama kali saya makan di warung pecel itu, hari itu adalah senin, tanggal 5 Mei di Tahun 2008 Masehi, bertepatan dengan pertama kali saya masuk perusahaan, pada saat itu statusnya masih dalam tahap pedekate. Kalau dihitung-hitung, sampai tulisan ini dibuat, saya sudah 8 dibaca delapan bulan keluar masuk itu warung pecel lele, makan dan minum disana, kecuali beramal, karena beramal kan diasrama. Setelah makan dan minum saya membayarnya, dengan uang.
Warung pecel lele itu dijaga oleh tukang pecel lele yang menyajikan pecel lele, dua orang laki-laki dan satu orang perempuan yang sering berbicara dengan bahasa yang tidak saya mengerti. Contohnya, “kowe elek tenan”, mungkin itu pujian untuk saya pelanggan setianya. Mungkinkah mereka itu orang Sunda? Ah, saya rasa bukan, karena saya ingin bilang begitu. Mungkinkah mereka itu orang Jawa? Ah, saya rasa iya, karena saya ingin bilang begitu. Saya sebetulnya pura-pura tidak tahu saja supaya tulisan ini lebih panjang. Pura-pura tidak tahu lebih baik daripada sok tahu bukan? Sudahlah jangan dipikir karena saya memang begitu. Lanjuut,,
Penjaga pecel lele itu adalah tukang pecel lele yang berasal dari bagian republik ini yang bernama Pulau Jawa sebelah timur, timur adalah salah satu anggota dari arah mata angin. Oleh karenanya, saya panggilah mereka dengan sebutan “mas” dan “mbak”. Mereka sangat berjasa untuk saya, karena mereka sudi menyediakan saya hidangan untuk makan malam, memberikan bahan juga untuk beramal. Bayangkan kalau mereka tidak ada, tentunya tulisan ini tak akan ada juga.. saudara kembar saya yang mengelola imuhamadi.wordpress.com bilang, itu adalah “A Butterfly Effect”. Oleh karena jasa mereka itu, pantaslah mereka mendapatkan hadiah Nobel karenanya.
Para pembaca yang budiman, sebetulnya ada yang mengganjal di hati saya, apalah itu? Sampai saat ini tak tahulah saya nama mereka, mungkin saja Edi Triyono, Kartono, Nurkholis, Nurkadi, atau bisa juga Sa’ani atau Munipa, tak tahulah saya. Bagaimanalah bisa saya menceritakan kisah mereka kepada anak cucu saya kalau saya tak tahulah nama mereka. Dan, pepatah juga bilang, “tak kenal maka tak sayang”, saya tak maulah menjadi orang yang tak sayang, tentu bertentangan dengan apa yang diharapkan oleh orang tua saya dengan memberi nama Rizal Faisal Rahman, "Rahman" itu artinya penyayang.
Tapi bagaimanapun juga, itu sudah terjadi, tak usah saya sesali. Meskipun tak tahulah saya namamu hai tukang pecel lele, rasa terimakasih tetaplah saya layangkan untukmu atas jasa-jasamu, karena orang itu harus tahu berterimakasih, bagaimanapun juga tak bisalah hidup sendiri tanpa bantuan dari orang lain. Shokuji owarimashita, otsukaresamadeshita, osakini shitsureishimasu.. doumo arigatou gozaimasu.. Tunggu saya, besok mungkin akan datang lagi, untuk makan tentunya.. Tanya nama? Nanti sajalah……