Kamis, 21 Juni 2012

Mr. NICE GUY

Pada hari Sabtu yang entah kapan tanggalnya saya lupa di tahun 2006, Sabtu kan kuliah libur, jadi ingin saya manfaatkan untuk jalan-jalan. Saya mandi supaya basah, pakai kemeja usang milik ayah saya di kala muda, tak lupa mengantongi kacamata hitam Terminator dan antenna radio rusak yang sengaja saya copot untuk jaga-jaga, kalau baru bisa dimarah ibu.

Meski libur pergilah saya ke kampus yang berlokasi di Jl. Cihampelas Bandung untuk bertemu teman saya yang menjadikan markas himpunan sebagai tempat tinggal dia, makan-makan, minum-minum, mandi, gosok gigi dan ee juga disana. Saya kesana untuk membicarakan demonstrasi, demonstrasi bagaimana caranya menjiwai peran yang baik di dunia teater, sambil bawa kopi, rokok dan gorengan, siapa tahu teman saya belum sarapan.

Selesai urusan dengan teman, saatnya jalan-jalan, karena di sepanjang Jl. Cihampelas banyak penjual jeans, clothing, dan factory outlet. Saatnya kacamata hitam Terminator, antenna radio saya fungsikan. Saya pakai itu kacamata, dan membuat panjang itu antenna seperti tongkat. Mulailah berjalan dengan gaya orang buta. Saya berjalan dipinggir jalan, kalau di tengah tak maulah saya, saya tak mau jadi biang keladi kemacetan.

Oh itu dia sepasang anak muda yang berjalan santai sambil ngobrol, saya percepat langkah supaya bisalah saya menyusul mereka, setelah mendekat, saya tabraklah mereka, terlihat kesal itu anak muda, tetapi setelah melihat penampilan saya seperti orang buta, dia mulai melunak. Oh, ternyata mereka orang baik karena bisa menjaga emosi.

Oh, saya ingin menyebrang, tetapi kalau lancar menyebrangnya, nanti penyamaran saya terbongkar, akhirnya saya mencoba untuk bergaya bingung bagaimana bisa nyebrang, akhirnya ada bapak-bapak yang menghampiri saya.

“Mas mau nyebrang?”

“iya, tapi takut ketabrak”

“sama saya saja Mas” sambil dia pegang lengan saya, dan membantu membuat saya bisa nyebrang.

“terimakasih, semoga kebaikannya dibalas dengan kebaikan” itu kata saya.

“amiiiin, mari Mas” dia bukan sedang menyebut merk minuman serbuk, tapi pamitan untuk segera pergi.
Oh, berikanlah kebaikan untuk itu bapak-bapak.

Jadilah sekarang saya berada di depan outlet yang cukup besar, saya hampiri satpam toko, saya dekati seolah-olah ingin memastikan memang benar ada orang di dekat saya.

“Maaf, disini ada toilet?”

“ada Mas” jawab dia.

“jauh nggak ya?”

“deket kok disitu” sambil terlihat mau nunjuk arahnya kemana tetapi tidak jadi, apakah karena saya menyamar? Entahlah.

“maaf, bisa antarkan saya? Itu juga kalau Bapak ga lagi sibuk”

“ayo Mas” saya diantarkan sambil dituntun ke toilet dan tibalah di depan toilet.

“maaf Pak kalau bisa, setelah dari toilet, bisa antarkan saya ke tempat yang tadi?”

“iya Mas, saya tunggu” dia menyanggupi sambil mengarahkan saya ke toilet laki-laki, kalau ke toilet perempuan, jahil namanya.

Di dalam toilet saya nyalakan kran air supaya dianggap sedang melakukan aktifitas di toilet. Saya buka HP yang memang sudah saya silent dan saya buat tidak bisa bergetar. Saya SMS-an sama teman-teman saya kurang lebih 10 menitan.
Oh, saya lupa! Ada yang menunggu saya, Pak Satpam!!
Saya buru-buru keluar, tapi tidak jadi buru-buru karena takut penyamaran saya terbongkar.

“Mas….” Pak Satpam memanggil saya. Oh ternyata dia orang yang setia, karena dia masih disitu menunggu saya.

“maaf Pak lama, soalnya saya kesusahan buka celana, masa saya minta bantuan Bapak hehe”

“iya atuh, saya juga mengerti Mas”. *Atuh itu mungkin Bahasa Indonesianya “lah”

Akhirnya saya sampai di tempat pertama kali bertemu dengan Pak Satpam, saya ucapkan terimakasih dan pamitan.
Ya Allah, lindungilah mereka, berikanlah kebaikan sebagaimana mereka telah berbuat kebaikan terhadap sesamanya.

Onizuka Rizaru

0 comments:

Posting Komentar