Hari itu awal bulan September 2009 tahun setelah Nabi Isa dilahirkan. Pada saat itu pula saya sedang diperjalanan pulang setelah mengikuti pelatihan di Japan Foundation yang berada di jalan Jenderal Sudirman, kalaulah Jono yang jadi jenderal pada saat itu, mungkin namanya menjadi jalan Jenderal Jono, tapi sayangnya Jono hanyalah seorang kopral. Saya menaiki bis yang bernama BIANGLALA jurusan Depok-Grogol, tentu sajalah melewati jalan Jenderal Sudirman, kalaulah tidak saya tidak akan menaikinya tentunya.
Bis yang saya naiki penuh sesak dengan manusia yang tidak saling kenal, karena mereka tidak mengobrol, mereka tampaknya lebih akrab dengan NOKIA, Sony Ericsson, ataupun Blackberry yang ada digenggamannya. Oh, tak tersisa satupun kursi yang bisa saya duduki, karena orang lain lebih dulu mendudukinya, dan banyak orang lainpun yang senasib dengan saya. Andai pada saat itu saya bisa menyamar menjadi nenek-nenek, mungkin ada orang yang baik hati yang akan menawarkan kursinya untuk saya duduki, tapi sayang property penyamaran saya tidak dibawa, jadi saya harus berdiri bergelantungan di bis.
Bis yang saya naiki penuh sesak dengan manusia yang tidak saling kenal, karena mereka tidak mengobrol, mereka tampaknya lebih akrab dengan NOKIA, Sony Ericsson, ataupun Blackberry yang ada digenggamannya. Oh, tak tersisa satupun kursi yang bisa saya duduki, karena orang lain lebih dulu mendudukinya, dan banyak orang lainpun yang senasib dengan saya. Andai pada saat itu saya bisa menyamar menjadi nenek-nenek, mungkin ada orang yang baik hati yang akan menawarkan kursinya untuk saya duduki, tapi sayang property penyamaran saya tidak dibawa, jadi saya harus berdiri bergelantungan di bis.









