Setelah seharian menjalani aktifitas pelatihan sebagai seorang Kenshusei di Training Center, atau yang lebih populer dengan istilah “Senta”, kemanakah mereka akan melangkahkan kakinya? Bukanlah ke Ragunan, Taman Mini ataulah Taman Lawang, tetapi mereka segera menuju sebuah tempat yang bentuk bangunannya berbentuk huruf “L” apabila dilihat dari ketinggian 2000 m DPU, maksudnya Diatas Pesawat Udara. Tahukah anda apalah namanya tempat itu? Apabila anda adalah Kenshusei dari sebuah perusahaan yang saya samarkan namanya, ataulah pernah menjalani pelatihan disana, tentu tahu apalah namanya tempat itu. Kalaulah lupa, baiklah saya kasih tahu apa boleh buat. Tempat itu namanya “Ryo” bukan Ryo Ferdinand, ataulah Ryo Febrian, bukan pula lah Ryo De Janeiro. “Ryo” diambil dari bahasanya mas Hidetoshi Nakata yang berarti “Asrama” kalaulah itu diterjemahkan ke dalam bahasanya saya, Rizal Faisal Rakhman sebagai orang Indonesia, meskipun banyak orang yang mengira saya ini orang Amerika, karena saya mirip Mike, Mike Tyson maksudnya.
“Ryo” menjadi tempat yang penuh kenangan ataupun penyesalan bagi anda yang pernah tinggal disana, dengan peraturan dan kedisiplinannya yang ketat karena diterapkan semboyan “Urang mah bae maneh mah ulah” yang artinya “Kami (Sensei) boleh, kamu (Kenshusei) jangan”. Di “Ryo” menjadi tempat bagi para Kenshusei untuk memantapkan pelajaran bahasa Jepang yang diajarkan Sensei mereka pagi sampai sore harinya di Senta. Apalah lagi itu istilah “Sensei”? Terpaksa saya harus jelaskan lagi, “Sensei” artinya “Guru”, kalaulah dalam bahasa Inggris artinya “Teacher”, dalam bahasa Arab artinya “Ustadz”, dan dalam bahasa Uganda tak tahulah saya apa artinya. “Ryo” juga menjadi tempat untuk belajar menjalani kehidupan seperti hidup di Jepang, yang kelak akan dirasakan oleh para Kenshusei. Bedanya, kalau di “Ryo” tak adalah disana itu Yakiniku, Tempura, ataupun Sushi, yang ada hanyalah Pecel Lele dan Nasi Uduk. Pastinya anda kangen, bukan begitu? Begitulah kira-kira. Di “Ryo” terkadang pula Kenshusei menemukan yang namanya asmara di asrama, tak jarang pula asmaranya berbentuk segi tiga, segi empat, ataupun bujur sangkar. Di sana pula mereka belajar bagaimana menjadi pemimpin dan dipimpin, belajar mengatur dan diatur. Masih ingatkah dengan status sebagai “Ryocho”? yang dipilih secara demokratis dan IPOLEKSOSBUDHANKAMNAS, apakah kepanjangan singkatan itu? Tentu saja kepanjangan. Seorang Ryocho adalah Pak Lurahnya di Desa yang bernama “Ci Ryo” tetangganya Cisaat, lalu siapakah Pak Camat dan Bu Camatnya? Saya beri tahu deh siapa Ibu Camatnya, beliau berinisial “Y” takkan saya tulis namanya di tulisan ini, kalaulah saya tulis nanti Yati Sensei harus diberi rohyati, eh royalti.
Ya sudahlah, itulah sebagian kecil gambaran mengenai “Ryo”, dengan segala kenangannya bagi anda yang pernah tinggal disana. Mudah-mudahan tulisan acak-acakan ini mengingatkan anda kembali akan sebuah tempat yang bernama “Ryo” mungkin jugalah anda akan kangen ataulah menyesal pernah tinggal disana, tergantung anda menyikapi pola hidup dan pola pelatihan disana pada jaman dahulu kala, bukan begitu? Biarlah saya jawab, begitulah kira-kira. Semoga anda semua tetap semangat dalam menjalani masa “Kenshu” ataupun masa “Jisshu” di Jepang sana. Salam saya, Rizal Faisal Rakhman.
“Ryo” menjadi tempat yang penuh kenangan ataupun penyesalan bagi anda yang pernah tinggal disana, dengan peraturan dan kedisiplinannya yang ketat karena diterapkan semboyan “Urang mah bae maneh mah ulah” yang artinya “Kami (Sensei) boleh, kamu (Kenshusei) jangan”. Di “Ryo” menjadi tempat bagi para Kenshusei untuk memantapkan pelajaran bahasa Jepang yang diajarkan Sensei mereka pagi sampai sore harinya di Senta. Apalah lagi itu istilah “Sensei”? Terpaksa saya harus jelaskan lagi, “Sensei” artinya “Guru”, kalaulah dalam bahasa Inggris artinya “Teacher”, dalam bahasa Arab artinya “Ustadz”, dan dalam bahasa Uganda tak tahulah saya apa artinya. “Ryo” juga menjadi tempat untuk belajar menjalani kehidupan seperti hidup di Jepang, yang kelak akan dirasakan oleh para Kenshusei. Bedanya, kalau di “Ryo” tak adalah disana itu Yakiniku, Tempura, ataupun Sushi, yang ada hanyalah Pecel Lele dan Nasi Uduk. Pastinya anda kangen, bukan begitu? Begitulah kira-kira. Di “Ryo” terkadang pula Kenshusei menemukan yang namanya asmara di asrama, tak jarang pula asmaranya berbentuk segi tiga, segi empat, ataupun bujur sangkar. Di sana pula mereka belajar bagaimana menjadi pemimpin dan dipimpin, belajar mengatur dan diatur. Masih ingatkah dengan status sebagai “Ryocho”? yang dipilih secara demokratis dan IPOLEKSOSBUDHANKAMNAS, apakah kepanjangan singkatan itu? Tentu saja kepanjangan. Seorang Ryocho adalah Pak Lurahnya di Desa yang bernama “Ci Ryo” tetangganya Cisaat, lalu siapakah Pak Camat dan Bu Camatnya? Saya beri tahu deh siapa Ibu Camatnya, beliau berinisial “Y” takkan saya tulis namanya di tulisan ini, kalaulah saya tulis nanti Yati Sensei harus diberi rohyati, eh royalti.
Ya sudahlah, itulah sebagian kecil gambaran mengenai “Ryo”, dengan segala kenangannya bagi anda yang pernah tinggal disana. Mudah-mudahan tulisan acak-acakan ini mengingatkan anda kembali akan sebuah tempat yang bernama “Ryo” mungkin jugalah anda akan kangen ataulah menyesal pernah tinggal disana, tergantung anda menyikapi pola hidup dan pola pelatihan disana pada jaman dahulu kala, bukan begitu? Biarlah saya jawab, begitulah kira-kira. Semoga anda semua tetap semangat dalam menjalani masa “Kenshu” ataupun masa “Jisshu” di Jepang sana. Salam saya, Rizal Faisal Rakhman.




Hidup di Ryo 40 hari ( 9April-16mei12) bagaikan 40 tahun lamanya, karena harus meninggalkan keluarga maklum punya anak 4 gitu, terutama si bungsu Ryo eh Si Rai eh salah ibunya Rai, masa di Ryo takan terlupakan karena pecel lelenya Mas Bejo ( oh, ya itu makanan favorit, ya favorit lah, wong cuman satu2nya LANGKA LIYANE kaya kuwe ). Salam buat Para Sensei : Ajat Sensei,Irfan Sensei,Ardi Sensei dan si Bungsu Rasito Sensei (Rawon Nasi Soto) atau Si Ikemen dari Pemalang Ngapak2,Buat teman gaibku yang duduk dan bergelantungan di tangga belakang : maaf telah mengganggu singgasanamu
BalasHapusSalam dari,
Muchson Astra Daihatsu Motor, bersama tomodachi ( Ardi san,Syarif san,Warsito san,Bayu san)