Senin, 02 Maret 2009

Senang Itu Susah (7) : Symphonia de Pecellele

Setelah selesai aktifitas saya di kantor sebagai guru dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore, seringnya sih lebih dari jam 5, pulanglah saya ke tempat tinggal saya sementara di asrama perusahaan, tempat yang memberi saya ruang untuk ngopi, merokok, tidur, mandi dan tempat untuk beramal yaitu sedekah pada toilet. Tentunya sambil jongkok, supaya tak tahulah orang bahwa saya sedang beramal, karena kalau beramal ingin dilihat orang bukankah itu sombong? Atau istilah lainnya riya.

Iya, asrama memang tempat saya untuk melakukan berbagai aktifitas diatas kecuali makan. Karena setiap malam saya makan di warung pecel lele yang berada dipinggir jalan, karena tak maulah mereka tertabrak, posisi tepatnya di pinggir jalan depan asrama. Kadang makan pecel lele, kadang makan soto ayam, kadang makan ayam goreng, tapi sumpah!! saya tak makan daging babi karena takutlah saya disangka kanibal. Kanibal itu adalah memakan sesama.

Saya masih ingat pertama kali saya makan di warung pecel itu, hari itu adalah senin, tanggal 5 Mei di Tahun 2008 Masehi, bertepatan dengan pertama kali saya masuk perusahaan, pada saat itu statusnya masih dalam tahap pedekate. Kalau dihitung-hitung, sampai tulisan ini dibuat, saya sudah 8 dibaca delapan bulan keluar masuk itu warung pecel lele, makan dan minum disana, kecuali beramal, karena beramal kan diasrama. Setelah makan dan minum saya membayarnya, dengan uang.

Warung pecel lele itu dijaga oleh tukang pecel lele yang menyajikan pecel lele, dua orang laki-laki dan satu orang perempuan yang sering berbicara dengan bahasa yang tidak saya mengerti. Contohnya, “kowe elek tenan”, mungkin itu pujian untuk saya pelanggan setianya. Mungkinkah mereka itu orang Sunda? Ah, saya rasa bukan, karena saya ingin bilang begitu. Mungkinkah mereka itu orang Jawa? Ah, saya rasa iya, karena saya ingin bilang begitu. Saya sebetulnya pura-pura tidak tahu saja supaya tulisan ini lebih panjang. Pura-pura tidak tahu lebih baik daripada sok tahu bukan? Sudahlah jangan dipikir karena saya memang begitu. Lanjuut,,

Penjaga pecel lele itu adalah tukang pecel lele yang berasal dari bagian republik ini yang bernama Pulau Jawa sebelah timur, timur adalah salah satu anggota dari arah mata angin. Oleh karenanya, saya panggilah mereka dengan sebutan “mas” dan “mbak”. Mereka sangat berjasa untuk saya, karena mereka sudi menyediakan saya hidangan untuk makan malam, memberikan bahan juga untuk beramal. Bayangkan kalau mereka tidak ada, tentunya tulisan ini tak akan ada juga.. saudara kembar saya yang mengelola imuhamadi.wordpress.com bilang, itu adalah “A Butterfly Effect”. Oleh karena jasa mereka itu, pantaslah mereka mendapatkan hadiah Nobel karenanya.

Para pembaca yang budiman, sebetulnya ada yang mengganjal di hati saya, apalah itu? Sampai saat ini tak tahulah saya nama mereka, mungkin saja Edi Triyono, Kartono, Nurkholis, Nurkadi, atau bisa juga Sa’ani atau Munipa, tak tahulah saya. Bagaimanalah bisa saya menceritakan kisah mereka kepada anak cucu saya kalau saya tak tahulah nama mereka. Dan, pepatah juga bilang, “tak kenal maka tak sayang”, saya tak maulah menjadi orang yang tak sayang, tentu bertentangan dengan apa yang diharapkan oleh orang tua saya dengan memberi nama Rizal Faisal Rahman, "Rahman" itu artinya penyayang.

Tapi bagaimanapun juga, itu sudah terjadi, tak usah saya sesali. Meskipun tak tahulah saya namamu hai tukang pecel lele, rasa terimakasih tetaplah saya layangkan untukmu atas jasa-jasamu, karena orang itu harus tahu berterimakasih, bagaimanapun juga tak bisalah hidup sendiri tanpa bantuan dari orang lain. Shokuji owarimashita, otsukaresamadeshita, osakini shitsureishimasu.. doumo arigatou gozaimasu.. Tunggu saya, besok mungkin akan datang lagi, untuk makan tentunya.. Tanya nama? Nanti sajalah……

6 komentar:

  1. BTW, ari tukang pecel lele eta aya facebook/friendsterna teu? sugan aya "Pecel Lele Group" urang join ah.....(Dadi)

    BalasHapus
  2. penggemar pe cellele oge nya?
    saya ge sok jajan pe cellele teh jeung si guru, bejo di alun2..

    sigana lamun dibuat fans club na rada seru nya!!
    ataw dah ada??

    BalasHapus
  3. ada pe er buat zal di postingan terbaru saya..!
    kerjakan..!

    BalasHapus
  4. wah,,,gak nyangka yah ternyata rizal sensei yang satu inih suka jugah ke warung pecel yang biasanya menjual pecel lele, pecel ayam, sama soto ayam deh,,,
    kenapa gak nyangka,,???
    karena tiap harinya untuk makan malam setiap hari dari hari senin sampai hari jumat fany jugah suka makan makanan ituh,,,yah klo gak pesel ayam biasanya milih soto,klo untuk pecel lele mah baru 2 kali krn kurang begitu suka,klo udah bosan dengan ayam baru deh berganti dengan lele,,,hehehhe....
    ternyata makan malam qta sama yah,walaupun beda tempat,,hehehhe,,,
    tapi kebiasaan qta tetap berbeda,,,rizal sensei tetap setia dengan tukang pecel langganan di depan asrama sedangkan fany selalu ganti2 tukang lele,karena sambel yang dibuat tukang lele sekitar kosa berbeda2,jadi klo lagi pengen yg pedas kesini,klo pengen agak sedang kesana, klo pengen sambel yg biasa ajah ke situ,,
    itu lah perbedaan qta,,
    tapi tetep ajah yah, qta teh harus berterima kasih atas para tukang pecel lele,,,mereka memang sangat penting untuk mengisi mkn cacing2 yg ada diperut,apalgi ampe konser segala,,,
    and the last,,,
    klo emang mau ada pecel group,,fany ikutan wae lah,,,
    hidup tukang pecel,,,hehehhhe,,,

    BalasHapus
  5. hahaha...blog ini ternyata sangat berbahaya karena bisa bikin ngakak tujuh turunan. mantaff...pecel lele bisa jadi ide tulisan yang ajaib kaya gini...

    BalasHapus
  6. beuh jadi inget euy ka warung pecel eta,,,


    1 nasi putih yang oulen,,2potong tempe,,pecel ayam + sambal,,,dan es jeru manis (kurang manis tambah saja gulanya),,,,hanya 12000 rupiah,,,,,


    lamun balik rek nyimpang ahhhhhhhhhhhhh..................

    BalasHapus