Senin, 02 Maret 2015

Balada Minuman Dingin



Saat itu, matahari tepat berada di ubun-ubun kepala, oh hari itu sangat panas, saking panasnya serasa ingin masuk ke dalam kulkas, sayang di kantor saya ada larangan masuk kulkas, dikantor anda? Yang terbayang dalam pikiran saya adalah sebotol minuman dingin yang ada di kulkas warung seberang tempat saya bekerja mencari nafkah lahir, karena nafkah batin saya lakukan di rumah, bukan di kantor.

Saya tiba di depan warung dengan lebar 4 meter kalau belum yakin silakan ikut saya mengukur lebarnya sekali lagi. Disitu saya cari sendiri minuman yang ingin saya beli dengan mata uang rupiah karena si penjaga warung asyik dengan kalkulatornya. Saya bawa satu minuman berperisa teh dalam botol yang dinamai teh gelas, aneh sekali memang, dasar orang kita terkadang suka begitu. Ada juga susu sapi bergambar beruang dengan iklan naga, yah begitulah memang tidak usah diperdebatkan karena memang begitu.

Saya keluarkan dompet kumal berwarna abu-abu terbuat dari kain yang dulunya bagus sekarang sudah sobek-sobek. Dari dompet itu saya keluarkan uang receh satu lembar seratus ribu untuk membayar satu botol teh yang harusnya dalam gelas. Si penjaga warung melihat uang saya sedikit mengerenyitkan dahi, dahi itu bagian dari kepala.

“besar banget uangnya kang (abang- bahasa sunda), emang ga ada uang kecil?” dia tanya ke saya.

Ada yang aneh dengan pertanyaan di atas? Kalau berpikiran ada yang aneh berarti anda sepikiran dengan saya.

Saya jawab “aduh, tidak ada kang, gimana atuh? (atuh itu –dong).

“waduh, uangnya kegedean atuh kang” kata si penjaga warung lagi.

Nah, mulai ada yang aneh lagi kan dengan pernyataan si penjaga warung. Tapi biarlah, dia memang begitu.

Mau ngutang malu, mau beli uangnya kegedean, akhirnya saya ga jadi beli minuman itu dan harus merelakan siang itu tenggorokan kering. Tak apalah, saya rela.

Saya kembali ke kantor, saya tadi lupa kalau di kantor ada kulkas, ada es batu, ada dispenser, ada istri saya yang selalu siap sedia kopi instan dan akan kubuat sendiri es kopi. Siang bolong macam begitu sangatlah mantap dia, saya akan nikmati dengan semangat. 

Sampailah di kantor, kopi ada, dispenser ada, esnya? Oh ternyata esnya habis, ya sudahlah saya harus menjadi orang yang lapang dada, menerima segala kenyataan yang tidak sesuai harapan. Itu memang sulit, tapi dengan keikhlasan hal tersebut bisa kita lakukan. Akan tetapi ikhtiar itu penting bukan? Hasil ada yang mengatur, tugas kita sebagai manusia adalah berusaha, berikhtiar dan tawakal. Orang Jepang bilang “doryoku sureba kanarazu dekiru” artinya jika berusaha pasti kita bisa!

Besok, saya akan berusaha lagi, bawa uang kecil ke warung. Oh, sayang kalau harus saya gunting.

Rizal


Ditulis 05 Mei 2015

0 comments:

Posting Komentar