Hari itu awal bulan September 2009 tahun setelah Nabi Isa dilahirkan. Pada saat itu pula saya sedang diperjalanan pulang setelah mengikuti pelatihan di Japan Foundation yang berada di jalan Jenderal Sudirman, kalaulah Jono yang jadi jenderal pada saat itu, mungkin namanya menjadi jalan Jenderal Jono, tapi sayangnya Jono hanyalah seorang kopral. Saya menaiki bis yang bernama BIANGLALA jurusan Depok-Grogol, tentu sajalah melewati jalan Jenderal Sudirman, kalaulah tidak saya tidak akan menaikinya tentunya.
Bis yang saya naiki penuh sesak dengan manusia yang tidak saling kenal, karena mereka tidak mengobrol, mereka tampaknya lebih akrab dengan NOKIA, Sony Ericsson, ataupun Blackberry yang ada digenggamannya. Oh, tak tersisa satupun kursi yang bisa saya duduki, karena orang lain lebih dulu mendudukinya, dan banyak orang lainpun yang senasib dengan saya. Andai pada saat itu saya bisa menyamar menjadi nenek-nenek, mungkin ada orang yang baik hati yang akan menawarkan kursinya untuk saya duduki, tapi sayang property penyamaran saya tidak dibawa, jadi saya harus berdiri bergelantungan di bis.
Di depan saya ada wanita cantik yang tampaknya pulang bekerja. Salah satu tangannya keatas berpegangan ke tempat menyimpan barang-barang, sehingga membiarkan ketiaknya terbuka lebar. Untunglah di jaman sekarang ini semakin banyak deodorant yang bisa dibeli dimana saja, kalaulah tidak, baulah dia. Meskipun sebenarnya wanita di depan saya itu tak mengeluarkan aroma bau badan yang tak sedap, tiba-tiba saya terpikirkan untuk menutup hidung saya seolah-olah wanita itu bau badan, saya tutup hidung saya dengan ekspresi muka yang seakan tak tahanlah saya dengan bau badannya. Orang di belakang saya menatap saya dengan heran, lalu saya kirimkan sinyal ke orang itu seakan menyampaikan pesan bahwa saya menutup hidung karena wanita yang ada di depan saya bau badan. Sesekali orang itu menatap wanita yang saya maksud, ternyata orang yang sedang duduk di sebelah kanan dan kiri sayapun mulai mengarahkan pandangannya ke arah si wanita. Hati manusia memang sensitif, si wanita merasakan dipandangi risih oleh beberapa pasang mata. Lalu, si wanita menoleh ke arah saya yang berada dibelakangnya, saya tak melepaskan tangan dari hidung. Sesekali juga si wanita menatap ketiaknya dan mendekatkan hidungnya kesana, seakan memastikan apakah benar bau badannya. Sayangnya, bau badan lebih bisa dirasakan oleh orang lain, jadi si wanita tetap saja tak yakin. Tampaknya, si wanita mulai salah tingkah, karena orang-orang di dekat saya pun sesekali mencuri-curi pandang ke arah si wanita, mungkin saja mereka berpikir “cantik-cantik kok bau…” si wanita semakin salah tingkah, karena kepercayaan dirinya telah dirampas! Itu terlihat dari ekspresi mukanya dan gerak tubuhnya.
Sampai akhirnya, saya harus turun, karena posisi bis sudah di depan stasiun Tanjung Barat, disitulah kantor tempat saya bekerja berada. Saya turun meninggalkan si wanita yang sedang gundah, dan terlanjur dianggap bau badan oleh orang disekitarnya. Oh, maafkan saya wahai wanita cantik tanpa nama, saya hanya iseng saja, lebaran tahun depan saya akan meminta maaf, kalaulah kita berjumpa lagi.
Bis yang saya naiki penuh sesak dengan manusia yang tidak saling kenal, karena mereka tidak mengobrol, mereka tampaknya lebih akrab dengan NOKIA, Sony Ericsson, ataupun Blackberry yang ada digenggamannya. Oh, tak tersisa satupun kursi yang bisa saya duduki, karena orang lain lebih dulu mendudukinya, dan banyak orang lainpun yang senasib dengan saya. Andai pada saat itu saya bisa menyamar menjadi nenek-nenek, mungkin ada orang yang baik hati yang akan menawarkan kursinya untuk saya duduki, tapi sayang property penyamaran saya tidak dibawa, jadi saya harus berdiri bergelantungan di bis.
Di depan saya ada wanita cantik yang tampaknya pulang bekerja. Salah satu tangannya keatas berpegangan ke tempat menyimpan barang-barang, sehingga membiarkan ketiaknya terbuka lebar. Untunglah di jaman sekarang ini semakin banyak deodorant yang bisa dibeli dimana saja, kalaulah tidak, baulah dia. Meskipun sebenarnya wanita di depan saya itu tak mengeluarkan aroma bau badan yang tak sedap, tiba-tiba saya terpikirkan untuk menutup hidung saya seolah-olah wanita itu bau badan, saya tutup hidung saya dengan ekspresi muka yang seakan tak tahanlah saya dengan bau badannya. Orang di belakang saya menatap saya dengan heran, lalu saya kirimkan sinyal ke orang itu seakan menyampaikan pesan bahwa saya menutup hidung karena wanita yang ada di depan saya bau badan. Sesekali orang itu menatap wanita yang saya maksud, ternyata orang yang sedang duduk di sebelah kanan dan kiri sayapun mulai mengarahkan pandangannya ke arah si wanita. Hati manusia memang sensitif, si wanita merasakan dipandangi risih oleh beberapa pasang mata. Lalu, si wanita menoleh ke arah saya yang berada dibelakangnya, saya tak melepaskan tangan dari hidung. Sesekali juga si wanita menatap ketiaknya dan mendekatkan hidungnya kesana, seakan memastikan apakah benar bau badannya. Sayangnya, bau badan lebih bisa dirasakan oleh orang lain, jadi si wanita tetap saja tak yakin. Tampaknya, si wanita mulai salah tingkah, karena orang-orang di dekat saya pun sesekali mencuri-curi pandang ke arah si wanita, mungkin saja mereka berpikir “cantik-cantik kok bau…” si wanita semakin salah tingkah, karena kepercayaan dirinya telah dirampas! Itu terlihat dari ekspresi mukanya dan gerak tubuhnya.
Sampai akhirnya, saya harus turun, karena posisi bis sudah di depan stasiun Tanjung Barat, disitulah kantor tempat saya bekerja berada. Saya turun meninggalkan si wanita yang sedang gundah, dan terlanjur dianggap bau badan oleh orang disekitarnya. Oh, maafkan saya wahai wanita cantik tanpa nama, saya hanya iseng saja, lebaran tahun depan saya akan meminta maaf, kalaulah kita berjumpa lagi.




hahaha, jail banget deh. kasihan sekali wanitanya, tapi hebat bisa mempengaruhi psikologi orang lain dengan cara yang sangat sederhana. top
BalasHapus