Jum’at, 30 Januari 2007, Jum’at adalah hari yang paling saya tunggu-tunggu, karena apa? Karena waktunya pulang ke Bandung setelah 5 hari bekerja di Jakarta. Tentu juga menjadi hari yang ditunggu-tunggu juga oleh Ibu Bapak saya, karena saya yakin mereka kangen untuk membangunkan paksa saya subuh-subuh sekitar jam 5an. Sekarang, hari Jum’at menjadi hari yang ditunggu juga oleh adik iparnya Dadi sensei yang bernama Yiyis, karena apa? Saya cukup jawab dengan "hehehehe" karena saya nanti dianggapnya kepedean. Tiap Jum’at sore menjelang malam, saya pulang ke Bandung bareng dengan Dadi sensei dan Andri sensei, Andri sensei adalah Staf di kantor kami yang selalu saya tebengi mobil Honda Maestro warna putihnya untuk pulang ke Bandung. Hari itu waktu menunjukkan Jam 6 sore lebih, saatnya untuk take off dari kantor.
Hari sedang hujan deras-derasnya, tapi itu tak jadi masalah, karena rasa kangen kami kepada orang yang menunggu kami bagaikan Mike Tyson yang akan menerkam Chris John. itupun kalau Mike Tyson ga terkena parkinson. Berangkatlah kami untuk menyusuri tol Cipularang, start dari gerbang tol LA (lenteng agung) dan finish di gerbang tol Moch. Toha Bandung, sedih juga sih meninggalkan kantor yang memberi kami sarana internet gratisan, sedangkan di Bandung harus ke warnet dan bayar pula.. pada waktu itu dari kantor sampai ke Bandung hujan tak henti-hentinya mengguyur kami, untunglah kami terlindungi dari air hujan, karena mobil Honda Maestro warna putih milik Andri sensei ada atapnya, bayangkan kalau tidak ada… karena kondisi tersebut, hari menjadi dingin sekali, saat itu saya berfikir “andai saya sudah menikah”….
Setelah 2 jam lebihan lah perjalanan kami, tibalah kami di gerbang tol Moch. Toha Bandung, itu artinya saya dan Dadi sensei harus berpisah dengan Andri sensei dan Mobil Honda Maestro nya, untuk pindah naik mobil warna krem tak tahulah punya siapa, yang akan mengantar kami ke Banjaran. Saya gunakan jari ajaib saya untuk menunjuk salah satu dari mobil warna krem tersebut, abrakadabra,, berhentilah dia.. Naiklah kami kedalamnya, kira-kira setelah 45 menit perjalanan, sampailah kami di kota kelahiran kami Banjaran, itu artinya saya harus berpisah dengan Dadi sensei karena rumahnya di Bojong Pulus sedangkan saya di Ciapus. Duh, perjalanan belum selesai, saya harus naik kendaraan 1 kali lagi, ojeg namanya, punya siapa? Mungkin pacarnya Romlah, karena di tato lengannya tertulis “Romlah I LOVE YOU”, kali ini saya tak menggunakan jari telunjuk ajaib saya, cukup saya hampiri saja dan bilang “kang, Ciapus..” 5 menit kemudian sampailah saya di rumah tercinta, untuk memberitahu orangtua saya bahwa anaknya yang susah bangun pagi sudah pulang.
Hari itu benar-benar sangat dingin sekali, tak apalah saya belum menikah juga, saya masih punya tangan dan sabun untuk membantu menghilangkan rasa dingin saya. Tangan untuk menyeduh 1 gelas kopi Kapal Api special mix dan merokok Sampoerna Kretek, sedangkan sabun untuk mencuci gelas bekas saya ngopi.
Hari sedang hujan deras-derasnya, tapi itu tak jadi masalah, karena rasa kangen kami kepada orang yang menunggu kami bagaikan Mike Tyson yang akan menerkam Chris John. itupun kalau Mike Tyson ga terkena parkinson. Berangkatlah kami untuk menyusuri tol Cipularang, start dari gerbang tol LA (lenteng agung) dan finish di gerbang tol Moch. Toha Bandung, sedih juga sih meninggalkan kantor yang memberi kami sarana internet gratisan, sedangkan di Bandung harus ke warnet dan bayar pula.. pada waktu itu dari kantor sampai ke Bandung hujan tak henti-hentinya mengguyur kami, untunglah kami terlindungi dari air hujan, karena mobil Honda Maestro warna putih milik Andri sensei ada atapnya, bayangkan kalau tidak ada… karena kondisi tersebut, hari menjadi dingin sekali, saat itu saya berfikir “andai saya sudah menikah”….
Setelah 2 jam lebihan lah perjalanan kami, tibalah kami di gerbang tol Moch. Toha Bandung, itu artinya saya dan Dadi sensei harus berpisah dengan Andri sensei dan Mobil Honda Maestro nya, untuk pindah naik mobil warna krem tak tahulah punya siapa, yang akan mengantar kami ke Banjaran. Saya gunakan jari ajaib saya untuk menunjuk salah satu dari mobil warna krem tersebut, abrakadabra,, berhentilah dia.. Naiklah kami kedalamnya, kira-kira setelah 45 menit perjalanan, sampailah kami di kota kelahiran kami Banjaran, itu artinya saya harus berpisah dengan Dadi sensei karena rumahnya di Bojong Pulus sedangkan saya di Ciapus. Duh, perjalanan belum selesai, saya harus naik kendaraan 1 kali lagi, ojeg namanya, punya siapa? Mungkin pacarnya Romlah, karena di tato lengannya tertulis “Romlah I LOVE YOU”, kali ini saya tak menggunakan jari telunjuk ajaib saya, cukup saya hampiri saja dan bilang “kang, Ciapus..” 5 menit kemudian sampailah saya di rumah tercinta, untuk memberitahu orangtua saya bahwa anaknya yang susah bangun pagi sudah pulang.
Hari itu benar-benar sangat dingin sekali, tak apalah saya belum menikah juga, saya masih punya tangan dan sabun untuk membantu menghilangkan rasa dingin saya. Tangan untuk menyeduh 1 gelas kopi Kapal Api special mix dan merokok Sampoerna Kretek, sedangkan sabun untuk mencuci gelas bekas saya ngopi.




sumpah, lucu banget..!!!
BalasHapusendingna keren,
menciptakan khayalan liar
hehe..
oia, mari kita budayakan ngasih komen..!
biar yang nulis tau,
kalo tulisannya da yang baca.
ngomen di blog abdi nya..!
terima kasih sudah memperhatikan tato sayah..anda mungkin belum melihat tato di lengan kiri sayah yg bertuliskan "munarto i love u more"heuuheheuu
BalasHapusAda beberapa comment buat Rizal:
BalasHapus1. Kajeun geus kawin, mang Dadi ge masih butuh ku sabun mah...tentu aja dengan fungsi yang sama...buat mandi euy!!
2. Inget Tato inget murid mang Dadi tea si Hendra Gunze!! nepika disebut "Si tora" ti asrama JIAEC.
3. BTW, Dadi sensei teh nu mana tea?? kasep teu?
eta mobil warna krem mobil naon nya?????//
BalasHapushayang deui euy ka banjaran teh,,,inget ker d suguhan peyem n karedok d bumi na bapak sensei anu kasep cenah
sensei nh toni. aku kngen bgt...............
BalasHapus